Bukan review film : Samsara

Susah cari link download film ini yang non-HD

Film ini mengingatkan saya sewaktu diperjalanan. Naik bis. Bis antar kota tentunya. Sensasi nonton samsara lebih terasa, Karena durasi perjalanan lebih lama, rutenya bervariasi, dan kebetulan juga Saya jarang keluar kota. Ketika bis mulai berjalan, pemandangan diluar terlihat seperti deretan gambar-gambar berjalan. Bis terus melaju, tidak memberi kita kesempatan untuk melihat peristiwa-peristiwa di sepanjang perjalanan, secara lengkap. Memberi kesan seperti menonton adegan film, tapi dipotong sembarangan. Lebih acak dari film ini malah. Hampir mustahil tersusun jalan cerita nyambung dan rapi. Dari ruangan bis, suara orang,kendaraan,mesin diluar sana juga hampir tidak terdengar. Memberikan efek film bisu. Kalau mau tambahan musik, silahkan bawa mp3 player sendiri, atau tidak perlu. Pak sopir kadang menyetel VCD musik campursari atau lagu indonesia klasik 80-90an. Beberapa penumpang  kadang juga menyetel lagu dari mp3 player dia sendiri. Tanpa earphone. Volume dikeraskan. Hampir tidak pernah cocok di telinga saya ( atau mood saya di perjalanan) lagu dia. Lagu dari pengamen sering terdengar pas dan enak. Malah saya kurang suka versi penyanyi aslinya. Mungkin akibat efek dari musik dibawakan secara akustik atau suara pengamen yang pas-pasan dan fals tapi berkesan membumi dan akrab. Teman seperjalanan yang talkative bisa juga berperan seperti narator. Di film ini tidak ada narator. Sebaiknya memang tidak ada. Nanti merusak suasana. Maksud saya suasana di film ini.

Film samsara dan perjalanan di bus, walaupun bagi sebagian orang terlihat membosankan dan tanpa makna, tapi justru disitu letak keindahannya. Seperti tidak ada paksaan mengikuti jalan cerita yang disusun sutradara atau adegan yang harus dimaknai sesuai apa yang diinginkan sutradara. Mungkin saja si sutradara punya pesan di balik karyanya. Toh, dia juga tidak secara menjejalkan pesan itu ke mulut kita (asal tidak baca situs resmi film samsara). Pemaknaan bisa disesuaikan dengan kemampuan, pengetahuan dan mood  kita. Sayangnya, cukup sekali menonton Samsara, Saya langsung bosan dan malas menonton lagi. Beberapa film favorit saya, Ditonton beberapa kalipun masih enak. Mungkin karena di film yang normal dan umum, film box office, ada unsur escapism dan wish fulfilment yang tidak ada atau sedikit sekali saya temui di film Samsara. Begitu pula di perjalanan naik bis. Silahkan juga dikait-kaitkan dengan hidup ini.Menurut saya, deskripsinya kurang lebih sama seperti penjelasan diatas.

Bahas Cerpen (I)

Jadi ingat jaman SD dulu. berkat ortu saya yang lumayan kaya itu, saya bisa langganan majalah bobo. Nah, Salah satu isi majalah yang paling berkesan buat saya, atau dengan kata lain yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu kolom cerpen. Kali ini mau saya coba ceritakan salah satu cerpen, yang semakin lama semakin pudar saja dari ingatan saya. Sekalian buat catatan, daripada lupa. Oh iya, konon kabarnya cerpen ini cerita rakyat dari Propinsi Irian Jaya ( nama propinsi Papua jaman dulu ). Jelas perlu diverifikasi . tapi saya terlalu malas googling.  Seingat saya, cerpen ini berjudul asal muasal burung cendrawasih.

Alkisah, pada jaman dahulu kala, disuatu tempat di belantara papua, tinggal sejenis burung yang berbulu jelek. Si burung ini benar benar punya hobi mengeluh, tidak puas dengan warna bulu dia. Keluhan dia semakin menjadi-jadi sewaktu dia ditangkap pemburu. Si pemburu itu malah membuang burung tadi dengan alasan bulunya jelek, tidak laku dijual. Si burung itu merasa dilecehkan dan dia merasa tidak terima ( dasar burung gila 😀 ). Sampai sampai pasangan dia sering mengingatkan “Harusnya kamu itu bersyukur kalau kita ini jelek. Tidak ada pemburu yang mau menangkap kita. Kita juga tidak perlu repot membangun sarang di pohon yang tinggi.” Kata-kata si istri malah membuat rasa iri dia semakin menjadi-jadi. Dia memutuskan untuk menghadap dewa hutan, memohon warna bulu yang lebih menarik.

Diapun menghadap ke dewa hutan, dan langsung menyebutkan permohonan. Sang dewa hutan menawarkan,” wahai burung, kamu ingin warna bulu yang seperti apa?”. Lalu, dewa hutan menujukkan warna hijau daun daun di hutan. Si burung menjawab,”Kurang cocok wahai dewa, mohon ganti warna lain”. Berkali-kali sang dewa menunjukkan warna-warna yang ada di hutan, bebatuan, laut, langit, bunga, buah-buahan. tetapi si burung tetap menolak. Sang dewa pun dibuatnya bingung. ” kamu ini mau warna apa?”. Kebetulan di hari hujan baru saja reda, dan muncul pelangi di langit. Si burung benar-benar kagum setelah melihat keindahan pelangi. dan dia memohon agar warna bulu dia diubah agar mirip pelangi.”kamu yakin dengan permohonanmu?”. “Ya dewa. Itu adalah warna yang paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup”. jawab si burung. Sang dewa mengabulkan permohonan si burung, dan si burung nampak puas melihat perubahan di warna bulu di tubuh dia. Dan perubahan warna bulu itu bukan pada dia saja, tetapi pada anak, istri dan keturunannya.

Sepulang dari menghadap dewa, Dia pulang ke sarang untuk bertemu istri. Bukannya senang dan menyambut si suami. si istri tadi malah marah-marah. “Dasar bodoh. berkat ulahmu tadi kita terpaksa harus membuat sarang di tempat tinggi. Lihat, karena warna bulu kita yang indah banyak pemburu mencari kita”. dan si cendrawasih hanya tertunduk lesu menyesali keputusan yang telah dia buat.

Banyak detil cerita yang saya lupa. Seperti dialog sesaat setelah permintaanya dikabulkan, mengapa burung hanya dapat satu permintaan, bagaimana cara dia bisa bertemu dewa, kok sepertinya gampang sekali, tanpa syarat aneh-aneh. Toh moral cerita dari cerpen sudah bisa tersampaikan. Saya membaca cerpen itu sewaktu kelas 4 SD (lupa-lupa ingat). Dan karena Saya benar-benar pecundang, setelah membaca cerita ini, Saya semakin bersyukur atas keadaan saya. Jadi pecundang itu aman, bebas dari tanggung jawab. Tidak yang membebani Saya dengan tanggung jawab. Jelas. Saya tidak bisa apa-apa dan tidak bisa diandalkan. Masyarakat membenci saya dan pada akhirnya Saya membenci diri saya. Lalu saya memutuskan untuk…..

Cukup. sudah. Nanti tulisan ini jadi terlalu muram. Bisa jadi moral cerpen itu cuma sekedar hendaknya kita mensyukuri apa-apa yang kita punyai. Tuhan sudah menyesuaikan anugrah-Nya dengan kemampuan tiap manusia. Jika kita mendapatkan berkah yang berlebih dan kita tidak mampu untuk mengelolanya, maka akan mencelakakan diri kita. Kalimat semacam itu mudah dicari di internet, di buku-buku self help, dan pastinya bertebaran di status facebook. Toh penulis tidak bertanggung jawab untuk menjelaskan moral cerita di akhir cerpen. Tapi cerpen ini kan ada di majalah anak-anak. Siapa tahu juga ditulis di cerpen, tapi lupa saya baca.Namanya anak-anak tetap perlu bimbingan ortu sewaktu baca bobo. Mungkin juga anak-anak lain paham. Atau pikiran saya saja yang sudah nyleneh sedari bocah. 😀