Bahas Cerpen (I)

Jadi ingat jaman SD dulu. berkat ortu saya yang lumayan kaya itu, saya bisa langganan majalah bobo. Nah, Salah satu isi majalah yang paling berkesan buat saya, atau dengan kata lain yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu kolom cerpen. Kali ini mau saya coba ceritakan salah satu cerpen, yang semakin lama semakin pudar saja dari ingatan saya. Sekalian buat catatan, daripada lupa. Oh iya, konon kabarnya cerpen ini cerita rakyat dari Propinsi Irian Jaya ( nama propinsi Papua jaman dulu ). Jelas perlu diverifikasi . tapi saya terlalu malas googling.  Seingat saya, cerpen ini berjudul asal muasal burung cendrawasih.

Alkisah, pada jaman dahulu kala, disuatu tempat di belantara papua, tinggal sejenis burung yang berbulu jelek. Si burung ini benar benar punya hobi mengeluh, tidak puas dengan warna bulu dia. Keluhan dia semakin menjadi-jadi sewaktu dia ditangkap pemburu. Si pemburu itu malah membuang burung tadi dengan alasan bulunya jelek, tidak laku dijual. Si burung itu merasa dilecehkan dan dia merasa tidak terima ( dasar burung gila 😀 ). Sampai sampai pasangan dia sering mengingatkan “Harusnya kamu itu bersyukur kalau kita ini jelek. Tidak ada pemburu yang mau menangkap kita. Kita juga tidak perlu repot membangun sarang di pohon yang tinggi.” Kata-kata si istri malah membuat rasa iri dia semakin menjadi-jadi. Dia memutuskan untuk menghadap dewa hutan, memohon warna bulu yang lebih menarik.

Diapun menghadap ke dewa hutan, dan langsung menyebutkan permohonan. Sang dewa hutan menawarkan,” wahai burung, kamu ingin warna bulu yang seperti apa?”. Lalu, dewa hutan menujukkan warna hijau daun daun di hutan. Si burung menjawab,”Kurang cocok wahai dewa, mohon ganti warna lain”. Berkali-kali sang dewa menunjukkan warna-warna yang ada di hutan, bebatuan, laut, langit, bunga, buah-buahan. tetapi si burung tetap menolak. Sang dewa pun dibuatnya bingung. ” kamu ini mau warna apa?”. Kebetulan di hari hujan baru saja reda, dan muncul pelangi di langit. Si burung benar-benar kagum setelah melihat keindahan pelangi. dan dia memohon agar warna bulu dia diubah agar mirip pelangi.”kamu yakin dengan permohonanmu?”. “Ya dewa. Itu adalah warna yang paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup”. jawab si burung. Sang dewa mengabulkan permohonan si burung, dan si burung nampak puas melihat perubahan di warna bulu di tubuh dia. Dan perubahan warna bulu itu bukan pada dia saja, tetapi pada anak, istri dan keturunannya.

Sepulang dari menghadap dewa, Dia pulang ke sarang untuk bertemu istri. Bukannya senang dan menyambut si suami. si istri tadi malah marah-marah. “Dasar bodoh. berkat ulahmu tadi kita terpaksa harus membuat sarang di tempat tinggi. Lihat, karena warna bulu kita yang indah banyak pemburu mencari kita”. dan si cendrawasih hanya tertunduk lesu menyesali keputusan yang telah dia buat.

Banyak detil cerita yang saya lupa. Seperti dialog sesaat setelah permintaanya dikabulkan, mengapa burung hanya dapat satu permintaan, bagaimana cara dia bisa bertemu dewa, kok sepertinya gampang sekali, tanpa syarat aneh-aneh. Toh moral cerita dari cerpen sudah bisa tersampaikan. Saya membaca cerpen itu sewaktu kelas 4 SD (lupa-lupa ingat). Dan karena Saya benar-benar pecundang, setelah membaca cerita ini, Saya semakin bersyukur atas keadaan saya. Jadi pecundang itu aman, bebas dari tanggung jawab. Tidak yang membebani Saya dengan tanggung jawab. Jelas. Saya tidak bisa apa-apa dan tidak bisa diandalkan. Masyarakat membenci saya dan pada akhirnya Saya membenci diri saya. Lalu saya memutuskan untuk…..

Cukup. sudah. Nanti tulisan ini jadi terlalu muram. Bisa jadi moral cerpen itu cuma sekedar hendaknya kita mensyukuri apa-apa yang kita punyai. Tuhan sudah menyesuaikan anugrah-Nya dengan kemampuan tiap manusia. Jika kita mendapatkan berkah yang berlebih dan kita tidak mampu untuk mengelolanya, maka akan mencelakakan diri kita. Kalimat semacam itu mudah dicari di internet, di buku-buku self help, dan pastinya bertebaran di status facebook. Toh penulis tidak bertanggung jawab untuk menjelaskan moral cerita di akhir cerpen. Tapi cerpen ini kan ada di majalah anak-anak. Siapa tahu juga ditulis di cerpen, tapi lupa saya baca.Namanya anak-anak tetap perlu bimbingan ortu sewaktu baca bobo. Mungkin juga anak-anak lain paham. Atau pikiran saya saja yang sudah nyleneh sedari bocah. 😀

 

Advertisements